Perbandingan-perbandingan yang tidak adil

 

Perbandingan-perbandingan ini ditemukan di dalam SEBUAH JAWABAN KEPADA TONGKAT GEMBALA ITU.
 

Tongkat Gembala Roh Nubuatan
"Pengasingan Paus Pius VI dalam tahun 1798 dan kematiannya di Valence, Perancis pada tanggal 19 Agustus 1799 bukanlah (huruf miring milik penulis) yang menimbulkan luka itu. Juga bukan kematian seseorang paus lainnya baik sebelum maupun sesudah itu." -- Tongkat Gembala Jilid 1 hal. 310. "'Aku tampak salah satu kepalanya bagaikan terluka parah; tetapi luka parahnya itu sudah sembuh; dan seluruh dunia heran mengikuti binatang itu.' Terkenanya luka parah itu menunjuk kepada keruntuhan kepausan dalam tahun 1798." -- The Great Controversy, p. 653 (new edition).
"'Masa periode ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam pasal-pasal yang terdahulu, dimulai dengan unggulnya kepausan, tahun 538 TM dan berakhir dalam tahun-tahun 1798. Pada waktu itu paus ditawan oleh tentara Perancis, kekuasaan paus memperoleh luka parahnya, lalu genaplah ramalan itu. 'Orang yang memasukkan ke dalam tawanan akan masuk sendiri ke dalam tawanan.'" -- Id., p. 501.


Pernyataan-pernyataan di atas adalah disalin kata demi kata dari SEBUAH JAWABAN KEPADA TONGKAT GEMBALA, Halaman 42, 38 (bahasa Inggris).

Metode yang semborono yang telah digunakan oleh saudara-saudara itu dalam pembandingan-pembandingan ini, dalam usaha putus asa mereka untuk mempersalahkan Tongkat Gembala, dapat dikembalikan kepada Alkitab dan kepada terbitan-terbitan organisasi sendiri. Sebagai contoh:
 

The Signs of the Times : Tongkat Gembala :

“ ....... Oleh sebab itu adalah tidak benar dan juga tidak berlandaskan injil untuk menyatakan, bahwa Gereja Roma Katholik adalah kepala yang kelima dari naga itu atau binatang dari Wahyu 13 itu.” -- Signs of The Times, April 12, 1932.

“Pendapat yang berkenan dengan aplikasi simbolis terhadap ..... binatang yang menyerupai harimau kumbang dari Wahyu 13, binatang merah kirmizi dari Wahyu 17, .... sebagai lambang-lambang dari kepausan, adalah tidak sesuai Alkitab dan juga tidak logis.” --- Tongkat Gembala Jilid 2 hal. 191.


Lagi pula, oleh metode yang curang ini orang akan dapat lebih mudah menentang Paulus dengan tulisan-tulisan Musa daripada mereka menentang Tongkat Gembala dengan Roh Nubuat, seperti yang terlihat dari contoh-contoh berikut ini:
 

Paulus mengatakan: “Siapakah engkau yang mengadili hamba dari orang lain? ....... Seorang menghargai satu hari melebihi hari lainnya; orang lain menghargai setiap hari itu sama saja. Hendaklah setip orang sepenuhnya yakin dalam pikirannya sendiri.” Rum 14 : 4, 5.

“Tetapi hari yang ketujuh itu ialah Sabat dari Tuhan Allahmu; janganlah engkau melakukan pekerjaan apapun pada hari itu. “Keluaran 20 : 10.


Mengapakah tidak menuduh Paulus yang mengajarkan, bahwa orang dapat memeliharakan setiap hari apa saja selama ia “menghargainya bagi Tuhan?”
 

“Karena setiap ciptaan Allah itu adalah baik, dan jangan satu pun ditolak jika ia itu diterima dengan syukur.”  1 Timotius 4 : 4


“Meskipun demikian sekaliannya ini jangan kamu memakannya, yaitu “semua yang memamah biak, atau yang terbelah kukunya, seperti unta, sebab meskipun ia memah biak, namun kukunya tidak terbelah dua, maka haramlah ia itu bagi mu.” Imamat 11 : 4.
 


Mengapa tidak juga di sini menuduh Paulus yang mengajarkan, bahwa manusia dapat memakan apa saja dan setiap perkara, sekalipun terlarang di dalam Firman Allah?
 

“Karena aku sedang bimbang di antara dua hal, aku ingin pergi lalu bersama-sama dengan Kristus, yang jauh lebih baik; meskipun demikian tetap tinggal dalam daging adalah lebih perlu bagimu.” Pilipi 1 : 23, 24.

“Karena orang hidup tahu bahwa mereka akan mati; tetapi orang mati tidak mengetahui apa-apa, juga tidak ada lagi pahala baginya, karena ingatan akan mereka itu sudah terlupakan." Alkhatib 9 : 5.


Sekiranya “komite dua belas itu” hidup pada zaman sewaktu Paulus berhotbah dahulu, dan sekiranya mereka diperbolehkan menggunakan metode penyelidikannya yang sekarang, maka oleh kelalalain mereka mempertimbangkan ringkasan dari apa yang diajarkan rasul itu dalam pernyataan-pernyatannya, mereka sudah akan menuduhnya sebagai seorang guru mengenai evolusi, mengenai keadaan sadar dari orang mati, dan mengenai tidak bertarak, maka dalam kesesatan yang sedemikian ini mereka sudah akan terdapat di antara orang-orang yang pertama sekali berteriak menuntut kepalanya, sama seperti halnya sekarang mereka berteriak-teriak matilah TONGKAT GEMBALA ITU.

Memang tidak menyenangkan karena mereka akan didapati bersalah kalau saja mereka telah menumpahkan darah Paulus, namun kesempatan mereka untuk masuk ke dalam hidup kekal akan jauh lebih baik (sekiranya kebodohan mereka terhadap apa yang diajarkan Paulus itu masih mungkin dimaafkan) daripada jika mereka terus berkeras menghadapi pekabaran Tongkat Gembala dengan tidak adil. Karena mungkin agak sulit untuk memahami ajaran-ajaran Paulus ini, tetapi pasti tidak sulit untuk memahami ajaran-ajaran Tongkat Gembala, karena tulisan-tulisan yang menyusul kutipan-kutipan komite itu dengan jelas menyatakan, bahwa binatang yang tak tergambarkan dan binatang yang menyerupai harimau kumbang itu adalah melambangkan kepausan. Dan selanjutnya, sekalipun Tongkat Gembala secara tegas mengemukakan, bahwa baik gabungan tanduk-kepala yang memilki “mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar”, maupun kepala yang terluka parah itu, melambangkan kepausan, namun mereka telah membuatnya terlihat seolah-olah mengajarkan sebaliknya.

Kutipan dari Tongkat Gembala yang terdapat pada halaman 29 buku kecil ini menunjukkan  oleh apa yang menyusulnya, bahwa Tongkat Gembala hanya sedang mencoba untuk menjelaskan, bahwa sungguhpun sebagian binatang-binatang itu melambangkan kekuasaan Romawi, adalah tidak logis dan tidak berlandaskan Alkitab untuk menganggap bahwa binatang-binatang itu semua melambangkan kekuasaan Romawi, atau bahwa binatang yang menyerupai harimau kumbang itu secara keseluruhan (tujuh kepala dan sepuluh tanduk) dapat melambangkan kekuasaan Romawi saja; karena ia itu dilambangkan oleh kepala yang terluka. Enam kepala yang tidak terluka dan sepuluh tanduk itu tak dapat tiada harus melambangkan kekuasaan-kekuasaan yang lain. Tetapi karena menyembunyikan kenyataan-kenyataan ini dari orang-orang, maka mereka memutar-balikkan Tongkat Gembala secara tidak adil, dan mereka menyesatkan dan membingungkan para anggota. Tidak ada maaf bagi hal ini, karena sekiranya mereka terlalu sibuk membaca, maka dengan hanya sepintas lalu melihat pada ilustrasi di halaman 82 dari Tongkat Gembala, Jilid 2, mereka akan dapat mengakui bahwa ia itu tidak mengatakan demikian itu sesuai yang mereka kemukakan.

Setiap argumentasi yang lain yang telah mereka kemukakan melawan Tongkat Gembala dalam usaha untuk menjauhkan para anggota daripadanya, dapat didiamkan secepatnya, dengan mudah, dan selengkapnya, seperti halnya contoh-contoh yang terdahulu. Sekiranya seseorang masih ragu, maka kami mengundang mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaannya. Pilihlah kontradiksi yang paling kuat yang dapat saudara temukan yang dikemukakan oleh salah seorang penentang Tongkat Gembala, maka kami berjanji menjernihkannya.

Barangkali pemutar-balikan fakta dari mereka yang paling kasar adalah pernyataan yang berbunyi: “Sewaktu perhatian penulis Tongkat Gembala itu diminta menanggapi kontradiksi yang langsung ini, maka ia tidak menyangkalnya, melainkan menyatakan bahwa interpretasinya itu hendaknya diterima karena Nyonya White belum memperoleh terang yang lengkap atas masalah itu.” -- A Reply to The Shepherd’s Rod, p. 42.

Tuduhan ini hanya mengada-ada atau memutarbalikkan pengertian, karena belum pernah kami membuat pernyataan sedemikian, dan sesungguhnya tidak mungkin dapat kami membuat pernyataan sedemikian itu, karena kami yakin Tongkat Gembala berada dalam kecocokan yang sempurna dengan tulisan-tulisan Nyonya White. Oleh sebab itu kami berharap agar demi kepentingan mereka sendiri, komite secara cukup terhormat akan mau mengoreksi penyajian yang salah ini.

Kini kami mengarahkan perhatian pembaca kepada apa yang diajarkan oleh buku The Great Controversy yang berkenan dengan lahirnya luka itu, karena buku JAWABAN itu membicarakan The Grear Controversy juga dengan cara yang curang sama seperti yang dilakukannya terhadap Tongkat Gembala. Dalam contoh ini, ia itu menghilangkan keseluruhan uraian sejarah yang luas persoalan itu yang terdapat di dalam buku itu, yang menunjukkan terjadinya luka itu sebagai akibat dari bukan hanya suatu tindakan tunggal pada suatu waktu, melainkan dari suatu rangkaian peristiwa-peristiwa yang berurutan, sebagaimana yang terlihat sepintas lalu di dalam kalimat-kalimat berikut:

“’ .... Suatu pergolakan yang serius (demikian kata Luther) telah dimulai. Sampai kepada hari ini saya hanya bermain-main dengan paus. Saya memulai pekerjaan ini dalam nama Allah; ia itu akan berakhir tanpa saya, tetapi oleh kuat kuasa-Nya.’”

“’ .... Saya mengemukakan firman Allah; saya berhotbah dan menulis --- semuanya ini saya lakukan. Maka sekalipun selagi saya tidur, ...... firman yang telah saya hotbahkan itulah yang meruntuhkan kepausan, sehingga bukan putera mahkota atau pun kaizar yang telah membuatnya sedemikian terluka.’”

“ .... kepintaran para paus, raja-raja, dan para imam telah dihantarkan kepada kesia-siaan oleh kuasa kebenaran. Paus telah menunjang suatu kesalahan yang akan dirasakan di antara semua bangsa dan pada segala zaman.”

“’ .... Suatu revolusi yang luas dengan demikian telah diefektifkan oleh bantuan Luther. Roma sudah terus menerus turun dari tahtanya, dan adalah suara dari seorang biarawan yang telah menimbulkan kehinaan ini.” -- The Great Controversy, pp. 142, 190, 162, 155.

“Kuasa yang mulia dan tenang dari Luther telah merendahkan musuh-musuhnya, dan telah mengenakan suatu pukulan yang sangat mematikan terhadap paus.” -- Testimonies, vol. 1, p. 373. ” ..... Melalui bantuan ilahi ia (Luther) telah dimungkinkan untuk menggocangkan kuasa Romawi yang luas; sehingga di setiap negara pondasi kepausan goncang.” -- Gospel Workers, old edition, p. 428.

Dengan semua pernyataan ini di hadapan kita, kita sekarang siap untuk mengevaluasi secara wajar tulisan berikut ini:

“Pada waktu itu (1798), paus ditawan oleh tentara Prancis, kuasa kepausan memperoleh lukanya yang parah, dan genaplah ramalan itu, bahwa ‘Orang yang membawa ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan.’” -- The Great Controversy, p. 439.  

Penegasan ini menunjukkan bahwa ayat 10 dari Wahyu 13 (“Orang yang membawa ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan”), dan bukan ayat 3 (“terluka parah”) yang digenapi dalam tahun 1798. Sesuatu interpretasi yang lain daripada ini tidak mungkin dapat dibuat tanpa mengabaikan semua pernyataan yang disebut di depan mengenai masalah itu. Lagi pula, Alkitab dengan jelas menunjukkan, bahwa tertangkapnya paus itu bukan hal yang menimbulkan luka itu, karena “kepala” itu kemudian sembuh dari lukanya, lalu hidup, padahal paus itu tidak pernah kembali dari tawanannya, melainkan ia mati dalamnya.

Lebih jauh, Yahya menyaksikan peristiwa ayat 3 itu (terlukanya kepala itu) terjadi sebelum peristiwa dari ayat 10 (tertawannya paus itu). Oleh sebab itu, maka terluka pada kepalanya itu adalah melambangkan pukulan sebagaimana yang telah ditimbulkan oleh Reformasi Protestan.

Dalam suatu penyajian yang salah lainnya, komitee itu mengatakan: “Adalah ditegaskan bahwa Luther pada waktu itu (tahun 1500 T.M.) telah memberikan luka parah itu.” -- A Reply to The Shepherd’s Rod, p. 43. Namun kami dengan sungguh-sungguh memohon kepada semua yang mencintai Pekabaran Malaikat Yang Ketiga untuk memeriksa masalah yang penting ini, dan supaya melihat sendiri, bahwa Tongkat Gembala bukan mengajarkan pukulan itu disampaikan dalam tahun 1500, seperti yang sedang mereka tanamkan agar para anggota percaya, melainkan sesudah tahun 1500. (Bacalah Tongkat Gembala, Jilid 1, hal. 302 – 320, dan Jilid 2, hal 83 – 123).

Dalam halaman enam dan halaman delapan, buku JAWABAN itu memberi pendapat, bahwa itu adalah sebuah jawaban terhadap “Penyelidikan Penuaian” itu, yang telah disampaikan kepada “komitee dua belas,” dan bahwa itu adalah sesuai dengan kesepakatan Fullerton. Sungguh pun demikian, yang benar adalah bahwa komitee itu tidak pernah memberi jawaban terhadap penyelidikan “Penuaian” itu sendiri (buku Traktat kami No.3), melainkan justru berusaha dengan sesuatu bentuk pukulan yang keras untuk mendiamkan semua penerbitan buku-buku Tongkat Gembala. Sesungguhnya, judul yang sebenarnya dari buku kecil itu mengakui, bahwa itu adalah “A REPLY TO THE SHEPHERD’S ROD” (SEBUAH JAWABAN KEPADA TONGKAT GEMBALA), dan bukan kepada penyelidikan “Penuaian”.

Lagi pula, karena kesepakatan itu meminta lima penyelidikan untuk disampaikan dalam seminggu jika penyelidikan yang pertama tidak dapat membuktikan kesalahan, maka perlu agar penyelidikan pertama dapat dijawab dalam jangka waktu dua puluh empat jam. Tetapi sekali pun adanya kesepakatan itu, ternyata lebih dari enam ratus jam sudah berlalu baharu jawabannya diberikan. Dan bahkan kemudian, seperti yang diperlihatkan, ia itu adalah bukan sebuah jawaban terhadap penyelidikan yang diberikan.

Melihat akan kenyataan ini dimana komitee itu telah gagal memenuhi janji kesepakatan mereka yang sudah ditanda tangan, maka kedudukan kami dengan sendirinya menjadi kuat, dan kedudukan mereka dicurigai, sehingga menjadi sia-sialah tantangan mereka di bawah ini:

“Kami telah menerima tantangan anda untuk membuktikan kekeliruan ajaran Tongkat Gembala itu. ..... Kini suatu tanda tangan datang kepada anda yang bukan keluar dari kami melainkan dari prinsip-prinsip kehormatan dan kejujuran yang paling sederhana; ..... Apakah penulis itu kini akan terpaksa menggunakan ‘kebijakan-kebijakan yang menyesatkan’ dan ‘cara-cara yang berbelit-belit dan berliku-liku dan berputar-balik’ ‘kekeliruan’ ..... atau maukah ia melangkah maju secara jujur dan terhormat dan berpegang pada janjinya: .........” --  A Reply to The Shepherd’s Rod, pp. 37, 49.

Oleh metode yang telah mereka gunakan --- yaitu membantah tulisan seseorang dengan cara membandingkannya dengan tulisan orang lain --- masing-masing dari kedua buku Alkitab itu dapat dibuat saling bertentangan. Lebih jauh, contoh berikut ini akan cukup mendemonstrasikan, bahwa bukan saja tulisan-tulisan masing-masing dari dua orang, yang sekalipun cocok sempurna, dapat dibuat bertetangan, tetapi juga tulisan-tulisan seseorang itu sendiri dapat dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat saling bertentangan. Ambillah sebagai contoh kedua pernyataan berikut ini dari tulisan-tulisan Nyonya White:

 

 “Ada seribu satu godaan yang terselubung siap menghadapi orang-orang yang memiliki terang kebenaran; maka satu-satunya jalan yang aman bagi masing-masing kita ialah jangan menerima ajaran baru Alkitab apa pun, tanpa terlebih dahulu menyerahkannya kepada saudara-saudara yang berpengalaman. Hadapkanlah hal itu kepada mereka dalam roh rendah hati yang dapat mengajar, dengan doa yang sungguh-sungguh; maka jika mereka tidak melihat terang dalamnya, serahkanlah pada keputusan mereka; karena ‘dalam rombongan besar penasehat-penasehat akan ada jaminan.’” Testimonies, vol. 5, p. 293. “Setiap jiwa harus berharap kepada Allah dengan perasaan sadar akan dosanya dan dengan rendah hati, agar Ia dapat mengendalikan dan memimpin dan memberkati. Kita tidak boleh berharap pada orang-orang lain untuk menyelidiki Injil itu bagi kita. Sebagian saudara-saudara pemimpin kita telah seringkali mengambil pendirian pada pihak yang salah; maka jika Allah mengirimkan sesuatu pekabaran lalu menunggu mengharapkan saudara-saudara yang lebih tua ini untuk membuka jalan bagi kemajuannya, ia itu tidak akan pernah mencapai orang banyak itu.

“Orang-orang yang tidak biasa menyelidiki sendiri Alkitab itu bagi dirinya, atau menimbang-nimbang kenyataan, menaruh harap pada para pemimpin, lalu menerima begitu saja keputusan-keputusan yang dibuat mereka; maka dengan demikian banyak orang akan menolak pekabaran-pekabaran penting yang dikirim Allah kepada umat-Nya, sekiranya saudara-saudara pemimpin ini tidak mau menyambut pekabaran-pekabaran itu.” – Gospel Workers, p. 303; Testimonies to Ministers, pp. 106, 107.

Dari contoh ini dapatlah kita melihat dengan cepat, bahwa sekalipun kedua tulisan itu diilhami oleh Roh yang sama, namun, apabila dimanipulasikan secara curang, maka keduanya akan mudah dibuat saling bertentangan. Tetapi apabila tujuan penulisnya dalam membuat pernyataan itu pertama sekali dipikirkan dalam setiap kasus, maka hanya pada waktu itulah orang akan dapat menginterpretasikan dengan tepat maksud pikirannya, dan tidak sulit menemukannya. Dalam mendemonstrasikan secara khusus kebenaran yang umum ini, kami mohon perhatian pembaca kepada analisa singkat berikut ini mengenai pernyataan di dalam buku Testimonies, vol. 5, p. 293, yang terlalu banyak diulas dan disalahgunakan, berkenan dengan terang baru:

“Ada seribu satu godaan yang terselubung siap menghadapi orang-orang yang memiliki terang kebenaran; maka satu-satunya jalan yang aman bagi masing-masing kita ialah jangan menerima ajaran baru Alkitab apa pun, tanpa terlebih dahulu menyerahkannya kepada saudara-saudara yang berpengalaman. Hadapkanlah hal itu kepada mereka dalam roh rendah hati yang dapat mengajar, dengan doa yang sungguh-sungguh; maka jika mereka tidak melihat terang dalamnya, serahkanlah pada keputusan mereka; karena ‘dalam rombongan besar penasehat-penasehat akan ada jaminan.’”

Berbagai keadaan yang telah mendorong timbulnya pernyataan itu adalah karena Saudara D ------, yang mengaku memiliki terang, padahal memiliki kegelapan, gantinya menerangi, malahan hanya menggelapkan pekabaran yang datang melalui Roh Nubuatan. Mengingat akan kenyataan ini, maka “saudara-saudara yang berpengalaman itu” yang sedang dibicarakan olehnya (Ny. White) terlihat tak lain daripada para bapa pendiri gereja Masehi Advent Hari Ketujuh itu juga, yaitu mereka yang telah ikut bersama-sama dengan Nyonya White dalam pengalaman tunggalnya membangun pekabaran itu satu demi satu, dan bukan orang-orang yang menyusul kemudian memberitakannya.

Jadi jelaslah, bahwa satu-satunya jalan yang mungkin dalam mana “saudara-saudara yang berpengalaman” ini dapat diminta nasehatnya pada waktu ini ialah dengan cara mematuhi suara itu yang telah mereka tinggalkan secara tertulis di dalam kesaksian-kesaksian tertulis mereka sendiri, dan terutama di dalam kesaksian-kesaksian tertulis pemimpin mereka dan jurubicara Allah, yaitu Nyonya White. “Malaikat”-nya orang-orang Laodikea, yang “tidak terkasihan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan telanjang,” itu jelas tidak dapat diminta nasehatnya, melainkan justru sebaliknya perlu dilayani dan diberi petunjuk.

Sesuai dengan itu komitee dua belas berikut juga semua saudara-saudara pemimpin lainnya seharusnya secara bulat dan dengan rendah hati menyambut perkataan tulisan-tulisan yang diilhami itu bagi sidang dalam penyajiannya yang lengkap, kalau saja masing-masing mereka mau menyuarakan suara pengalaman dan kebenaran itu. Sekiranya mereka melaksanakan hal ini, maka Tuhan tidak akan mengeluarkan tuduhan: “Maka sebab itu, karena engkau adalah suam, dan dingin tidak hangat pun tidak, maka Aku hendak meludahkan engkau dari dalam mulut-Ku.” Wahyu 3 : 16. Dengan perkataan lain, sungguhpun mereka tidak menempati kedudukan yang sama seperti “saudara-saudara yang berpengalaman” itu yang disebut di dalam Testimonies, vol. 5, p. 293, dan kini berada dalam suatu keadaan yang berbahaya, namun kalau saja mereka telah melakukan keputusan yang sama dan roh yang sama seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara yang berpengalaman itu, maka mereka sekarang akan menjadi penasehat-penasehat yang dapat diharapkan, yang patut memperoleh penghargaan yang sama.

Kebenaran ini selanjutnya didemonstrasikan oleh kenyataan, bahwa jika sekiranya maksud dari pernyataan Testimonies, vol. 5 itu adalah sama dengan yang diingini oleh para pemimpin kita, maka Yahya Pembaptis, Yesus Kristus, para Rasul, Luther, para Pejuang Reformasi, William Miller, dan Ny. White dalam tahun 1844 dan sekali lagi dalam tahun 1888, semua mereka, satu demi satu, telah mati dalam kesalahan, karena tidak seorang pun dari mereka itu menghormati keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pemimpin mereka, yang pada zaman mereka itu masing-masing secara populer telah disambut sebagai “saudara-saudara yang berpengalaman”, yang tidak melihat terang apapun dalam pekabaran-pekabaran itu, bahkan menuduh mempersalahkannya berikut para utusan itu. Dan Ny. White tidak pernah tunduk kepada keputusan mereka itu sewaktu mereka menentangnya.

Lagi pula, kalau saja yang dimaksudkannya dengan pernyataannya itu sama tujuannya dengan yang dikatakan oleh komitee, maka ia tidak akan pernah menulis seperti yang dibuatnya di dalam buku Gospel Workers, p. 303 dan di dalam Testimonies to Ministers, pp. 106, 107, yang mana keduanya sama sekali bertentangan dengan interpretasi mereka sendiri mengenai Testimonies, vol. 5, p. 239 itu. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa dalam memerangi Tongkat Gembala atas dasar landasan yang tak dapat dipertahankan sedemikian ini, mereka tanpa disadari sedang kehilangan sasarannya, sehingga yang kena justru Roh Nubuatan --- dan dengan demikian inilah mereka sedang membutakan, menakut-nakuti, dan membingungkan para anggota. Saudara, Saudariku, “Pilihlah olehmu pada hari ini” siapa yang hendak kamu “ikuti” --- para utusan Allah ataukah para pemimpin.

Tongkat Gembala bukan melebih-lebihkan sampai kepada suatu titik temu setiap pernyataan mengenai sesuatu masalah tertentu, sambil mengabaikan sama sekali pernyataan-pernyataan lain yang menyinggungnya, melainkan sebaliknya mempertimbangkan setiap pernyataan yang relevan. Atas dasar prinsip ini, yang sama sekali diabaikan oleh komitee itu, maka satu-satunya interpretasi yang mungkin cocok yang dapat mereka berikan kepada Testimonies, vol. 5, p. 293 itu, ialah agar mereka sendiri berikut semua saudaranya yang lain jangan memasukkan ke dalam pekabaran seseorang sesuatu pandangan sendiri di sini atau sesuatu pandangan sendiri di sana, sebelum terlebih dahulu menyerahkan pandangan-pandangan yang sedemikian ini kepada orang itu melalui siapa pekabaran itu telah datang, sama seperti yang dianjurkan oleh Roh Nubuatan: “Jika datang sesuatu pekabaran yang tidak engkau mengerti, maka usahakanlah agar dapat engkau mendengar alasan penjelasan yang dapat diberikan oleh juru kabarnya,” dan bukan alasan-alasan yang dapat diberikan oleh para pendeta. (Bacalah Testimonies on Sabbath School Work, p. 65).

Karena oleh peraturan dan oleh teladan telah diperintahkan kepada setiap orang untuk menyingkirkan balok dari matanya sendiri, sebelum mencoba “mengeluarkan sebutir debu” dari dalam mata saudaranya (Matius 7 : 4), maka olehnya itu Tuhan telah menunjukkan, bahwa sidang tidak boleh mengatakan kepada orang-orang lain, “Marilah kukeluarkan debu itu dari dalam matamu,” apabila “tengok, suatu balok terdapat di dalam matanya (sidang) sendiri.” Oleh sebab itu, kita adalah benar-benar terikat tanggung jawab untuk mengarahkan sorotan lampu pada madzab organisasi gereja MAHK (kita sendiri), bukan pada madzab-madzab gereja lain (saudara kita). Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Tuhan itu, maka di sini kita akan memandang bukan ke dalam mata pribadi orang, melainkan ke dalam mata MAHK secara kolektif, yaitu